Potensialnya Pasar e-Commerce Indonesia

Jakarta, Detikinet – Indonesia tak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia, setidaknya dalam hal aktivitas jual beli di internet. Hal itu terbukti dengan semakin banyaknya perusahaan asing yang serius berbisnis e-commerce di negara ini.

“Indonesia akan menjadi pusat bisnis dunia, terutama bisnis online khususnya e-commerce,” kata Arnold Sebastian Egg, founder sekaligus pimpinan Tokobagus.com, Sabtu (12/1/2012).

Keyakinan Arnold yang sempat disampaikan saat menjadi pembicara utama dalam seminar bertema ‘Expanding New Generation of Characterpreneur’ di Gedung SMESCO, Jakarta, antara lain karena tingginya PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia.

“PDB Indonesia saat ini tertinggi masih dari sektor minyak dan Gas. Sedangkan PDB dari sektor internet baru berkisar 1,6% padahal Indonesia saat ini menempati peringkat kelima sebagai negara dengan pengakses internet terbesar dunia, setelah China, India, Brazil, dan Belanda,” kata dia.

Posisi Indonesia sendiri masih berada di atas Amerika Serikat (AS) yang notabene negara dengan penghasil piranti canggih dunia. Hal inilah yang membuat Arnold yakin bahwa Indonesia akan menjadi pusat bisnis online dunia seiring dengan semakin banyaknya pemain-pemain baru yang berekspansi di bisnis ini.

Faktor itu yang kemudian membuat Tokobagus dan sejumlah perusahaan online lainnya yakin bisa sukses berbisnis di Indonesia. Bahkan, Multiply yang semula berbasis di AS, telah membulatkan tekadnya untuk memindahkan markasnya ke Indonesia karena potensi yang begitu besar dari negara ini.

“Untuk sukses di bisnis ini, kita harus mendengarkan user, tampung keinginan mereka, dan jaga hubungan dengan user. Tampilan Tokobagus yang user friendly sekarang ini adalah salah satu contoh komitmen kami untuk menjaga hubungan dengan customer,” papar Arnold.

“Dengan jumlah pengunjung mencapai 10 juta views per minggunya, itu jauh dibanding dengan jumlah pengunjung 14 mall besar di Jakarta yang rata-rata cuma dikunjungi 35 ribu pengunjung setiap harinya, ini sebuah potensi bisnis yang sangat besar. Buatlah konsumen memiliki pengalaman dan kesan yang baik saat mengunjungi toko anda. Itulah yang dilakukan Tokobagus saat ini,” paparnya lebih lanjut. ( rou / rou )

Setelah Cukup Sukses di Bisnis Telekomunikasi, Huawei Siapkan Produk TI

(foto: oneindonesia.com)

Jakarta, Detikinet – Huawei percaya diri terjun di pasar penyedia layanan TI untuk segmen korporat di Indonesia melalui unit bisnis baru Huawei Enterprise.

Dengan demikian, perusahaan yang selama ini identik sebagai vendor jaringan telekomunikasi itu siap menantang para pemain lawas macam IBM, Cisco, Hewlett-Packard, dan lainnya.

“Portofolio yang komprehensif meyakinkan kami akan pentingnya sektor enterprise di industri TIK,” kata Regional Sales Director, South Pacific Enterprise Business Huawei, Jeff Hwong.

Dia menambahkan, Indonesia sebagai salah satu pasar potensial yang paling dinamis sehingga kehadiran Huawei di pasar TI Tanah Air akan memainkan peranan penting.

Senada dengan Jeff, Coorporate Communication Manager Huawei Indonesia Yunny Christine menyatakan Huawei tentunya begitu percaya diri memasuki pasar TI Indonesia karena berpegang pada tiga hal.

“Ya, kami sangat percaya diri. Yang bisa kami janjikan adalah we always giving added value. Kita customer centric, terus melakukan inovasi. Dan bagi kita, menyajikan kualitas yang baik itu sangat penting,” ujar Yunny.

Untuk saat ini, disebutkan Yunny pihaknya belum bisa berbicara banyak mengenai target customer maupun pertumbuhan mengingat bisnis enterprise Huawei terbilang masih baru.

“Tapi kita bisa percaya kalau kita mampu. Beri kami waktu,” tandasnya.

Produk dan solusi Huawei Enterprise sendiri meliputi infrastruktur jaringan perusahaan, komunikasi perusahaan, pusat data, aplikasi-aplikasi industri, dan layanan komputasi awan.
( rns / ash ) 

Printer plus Smart Card, Solusi Menghemat Kertas

JAKARTA, KOMPAS.com – Printer yang dilengkapi teknologi smart card bisa memantau cetak dokumen di kantor. Penghematan kertas pun bisa dilakukan lebih baik.

Country Sales Manager Fuji Xerox Indonesia Teddy Susanto menjelaskan fitur ini akan dipasang pada mesin printer. Sehingga hanya pengguna yang memiliki Smart Card tertentu yang dapat memerintah pencetakan kertasnya.

Hal ini memungkinkan dokumen yang dicetak sesuai dengan pengguna yang mendatangi printer. Selain itu, perusahaan bisa mencatat bagaimana penggunaan printer karyawannya.

Printer yang memanfaatkan teknologi itu pun bisa menerapkan Smart Card yang biasanya sudah jadi kartu identitas di berbagai perusahaan besar.

Nah, Teddy mengatakan, Fuji Xerox dalam waktu dekat juga akan menghadirkan printer dengan kemampuan Smart Card tersebut.

“Satu dari enam printer yang akan kita luncurkan bakal memiliki fitur tersebut,” kata Teddy dalam Media Gathering Fuji Xerox di Marley Bar, The Energy Building, Jakarta, Rabu (8/2/2012).

Lewat printer itu, perusahaan juga bisa membatasi kemampuan karyawan dalam mencetak sebuah naskah atau dokumen. Sehingga biaya operasional untuk urusan printer bisa tetap terjaga.

Teddy mengaku belum bisa menjelaskan kisaran harga enam printer laser yang akan datang. Ia memperkirakan jajaran produk itu akan hadir pada Mei 2012.

Teknologi Hemat HP, 1 Komputer Dapat Digunakan 15 User

JAKARTA, KOMPAS.com – Hewlett Packard (HP) meluncurkan HP t200 Zero Client for Multiseat, sebuah solusi komputasi yang memungkinkan 15 pengguna komputer saling terhubung hanya dengan satu komputer/server atau yang biasanya disebut teknologi “thin client”.

(foto: kompas.com)

Dengan solusi ini, bisa dibilang 15 pengguna ini mengoperasikan komputer tanpa menggunakan PC. Proses komputasi di sisi pengguna seluruhnya ditanangi oleh komputer host.

Solusi dari HP ini terdiri dari 15 unit HP t200 dan 1 unit server (host) yang juga sekaligus menjadi CPU pusatnya. Di sisi pengguna, hanya diperlukan 1 unit HP t200, monitor, keyboard, dan mouse saja.

Daya yang digunakan untuk aktivitas 15 “komputer” ini sangatlah rendah. Dengan ini, perusahaan atau lembaga yang menggunakan solusi ini bisa bisa memangkas biaya perangkat untuk PC.

Alhasil, biaya investasi untuk pembelian hardware sekaligus biaya pemakaian konsumsi listrik juga berkurang, bahkan hingga 80 persen atau hanya memerlukan daya 3 watt ketika dihubungkan dengan host.

Regional Business Manager Client Virtualization Solution Personal Systems Group South East Asia and Taiwan, Anthony Lim menjelaskan perangkat tersebut menjadi solusi bagi perusahaan yang ingin berbagi perangkat komputer tapi tidak memerlukan PC di setiap meja pengguna.

Pasalnya, fungsi PC tersebut sudah langsung digantikan oleh perangkat HP Compaq Multiseat ms6200 Desktop yang berfungsi sebagai host.

“Perangkat ini dirancang untuk mendukung produktivitas dan efisiensi penggunanya, baik dalam hal waktu maupun biaya investasinya,” kata Anthony di Jakarta, Selasa (31/1/2012).

Prinsip Kerja
Pengguna hanya memerlukan perangkat monitor, HP t200 Zero Client for Multiseat (sebagai konektor) dan HP Multiseat ms6200 Desktop PC (yang berfungsi sebagai host).

Komputer host/server untuk HP t200 Zero Client menggunakan Microsoft Multipoint Server 2011.

Berdasarkan studi dari HP, pengguna bisa memakai 15 komputer sekaligus ke sebuah host. Koneksi yang digunakan bisa memakai USB maupun Ethernet.

Dengan model koneksi tersebut, pengguna utama bisa memantau 14 komputer lain baik dalam kinerja biasa hingga pemantauan akses internet (web control).

Untuk pemasangan perangkat ini pun cukup sederhana karena hanya memakan waktu hanya 10-15 menit untuk mengatur semua perangkat tersebut. Pasalnya, pemasangan perangkat ini bisa dilakukan secara plug and play.

Target pasar
Perangkat tersebut dirancang khusus untuk mendukung produktivitas dan efisiensi bisnis terutama pengusaha skala kecil dan menengah (UKM), pusat pelatihan, perusahaan call center, sekolah, kantor medis, kampus, perusahaan manufaktur dan perusahaan yang memiliki banyak pekerja di dalam suatu ruangan dan harus memakai komputer.

Untuk saat ini potensi yang disasar adalah lembaga pendidikan. Pasalnya lembaga tersebut paling membutuhkan perangkat untuk menunjang sistem pengajaran siswa.

“Produk ini sudah mulai dipakai di Semarang, selanjutnya akan ke Surabaya, Medan dan Bandung. Jakarta sudah pasti menjadi target utama kita,” tambah Market Development Manager HP Indonesia, Antonni.

Bersiaplah Kehilangan Rapidshare

KOMPAS.com – Departemen Kehakiman Amerika Serikat dikabarkan sedang meneliti kemungkinan situs berbagi lain melakukan pelanggaran seperti yang dilakukan Megaupload. Bisa saja, situs berbagi yang lain itu bakal bernasib sama.

Mengantisipasi hal itu, beberapa situs alternatif sudah mematikan layanan berbagi file mereka. Ini termasuk FileServe dan FileSonic.

Selain itu, dengan alasan sama, situs seperti Uploaded.to memblokir semua alamat internet protocol (IP) yang berbasis di Amerika Serikat.

Memang, seperti dikutip dari Venturebeat, masih sulit memperkirakan situs-situs berbagi mana yang bakal ditutup.

“Kasus Megaupload bisa menjadi preseden buruk untuk bisnis situs berbagi,” kata Felix Wu, dari Cardozo School of Law, Universitas Yeshiva.

Meski belum ada kepastian, berikut 15 situs berbagi yang berpotensi menjadi target selanjutnya:

1. BayFiles

Situs yang berbasis di Hong Kong ini dibuat oleh dua pendiri The Pirate Bay. Dua minggu lalu, pihaknya mengumumkan akan menghentikan layanan karena kasus Megaupload kian memanas.

Memang situs ini secara resmi melarang pengunggahan konten yang merugikan hak cipta orang lain. Tapi di sisi lain, penggunananya untuk berbagi konten bajakan sangat mudah.

2. DepositFiles

Situs yang berbasis di Cyprus ini dapat mengunggah file hingga 300MB secara gratis tanpa pendaftaran. Jika daftar jadi anggota, pengguna bisa mengunggah file hingga 2GB secara gratis pula.

Situs ini juga menawarkan keanggotaan “Gold” yang memungkinkan pengguna bisa mengunduh file secara cepat dan tanpa iklan. Layanan premium ini mirip yang disediakan Megaupload.

3. Divx Stage

Situs ini secara terang-terangan menawarkan membayar 10 dollar AS untuk setiap pengunggahan 1.000 film. Pengguna boleh mengunggah file hingga 1GB.

4. HulkShare

Situs ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah file lagu dan membiarkan orang lain bisa mendengarkan lagu dengan player yang disediakan khusus oleh HulkShare

5. MediaFire

Situs yang berbasis di Texas ini memungkinkan pengguna mengunggah file hingga 200MB tanpa daftar. MediaFire juga banyak dimanfaatkan penggunanya untuk berbagi file ilegal, meskipun dilarang oleh sang pengelola.

6. MegaShares

Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah file hingga 10GB dan membayar pengguna sesuai jumlah unduhan pada file milik mereka.

Bagai multi level marketing, setiap unduhan premium berukuran minimal 5MB  akan mendapat satu poin. Poin dapat ditukarkan dengan uang tunai jika mencapai jumlah tertentu.

7. NovaMov

Situs ini mirip dengan Divx Stage. Pengguna akan dihargai bila mampu mengunggah film hingga ukuran 2GB. Bayaran 10 dollar AS untuk setiap pengunggahan 1.000 film juga ditawarkan di sini.

8. OvFile

Dari sisi tampilan, situs ini nampak baik-baik saja. Namun kemudahannya sebagai “layanan penyimpanan video online” membuat situs ini bisa jadi target penyelidikan.

9. PutLocker

PutLocker memungkinkan pengguna mengunggah file hingga 1GB gratis dan dapat melakukan streaming video tanpa batas waktu. Pada 1 Februari nanti, situs ini akan menghentikan program afiliasinya yang memberi hadiah uang pada pengguna.

10. RapidShare

Situs yang berbasis di Swiss ini merupakan salah satu situs berbagi paling tua dan dikenal global. Situs ini pernah terjerat masalah hukum, namun tetap beroperasi dan melayani jutaan penggunanya.

Di situs ini juga tidak ada batasan unggah dan unduh file, tapi untuk bisa mengunduh file secara cepat harus melalui proses pendaftaran dan berbayar.

11. SockShare

Seperti PutLocker, SockShare juga akan menghentikan program afiliasinya. Di SockShare batas unggahnya adalah 1GB (gratis) dan 5GB (premium).

12. UpLoadHere

Situs ini menyediakan layanan mengunggah file hingga 2GB. Untuk mengunduh file di atas 1GB, pengguna harus membayar.

Biaya keanggotaan 8 dollar AS per bulan, atau lebih kurang sedikit bila membayar sekaligus untuk beberapa bulan.

13. UpLoadKing

Mirip seperti UpLoadHere, kecuali biaya yang lebih murah untuk layanan premiumnya. Pengguna gratisan hanya bisa mengunduh file di bawah 1GB dan tak boleh mengunduh lebih dari satu file secara bersamaan.

14. WUpload

Situs yang berbasis di Hongkong ini diperkirakan adalah situs berbagi kedua terbesar setelah Megaupload. Layanan gratisnya bisa dipakai untuk mengunduh hingga 2GB.

15. ZShare

Situs yang berbasis di Hongkong ini murni gratis dan mendapatkan penghasilan dari iklan. Pengguna dibatasinya hanya bisa mengunggah dan mengunduh file hingga 100MB.