Selamat datang di website PT MDS Komputama…

Featured

PT MDS Komputama adalah sebuah institusi bisnis yang bergerak di bidang jasa dan penjualan komputer. Bermula dari sebuah warnet yang didirikan pada 14 Februari 2005 dengan nama Khazanah Komputer, pada tahun 2009 warnet tersebut berkembang dan bermetamorfosis menjadi sebuah perusahaan bernama PT MDS Komputama.

Kini PT MDS Komputama telah menjadi vendor/supplier dari berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia seperti Indofood, Asuransi Takaful, Bank Muamalat, Bank Mandiri, Dompet Dhuafa, Solite, Tempo, dll.

Dinahkodai oleh 3 orang sarjana yang lebih memilih melepaskan jabatan tinggi di perusahaan tempat mereka pernah bekerja, kini PT MDS Komputama hadir lebih dekat dengan Anda. Melalui website ini, kami mencoba untuk belajar dan berdiskusi dengan Anda, sambil tentu saja………berjualan komputer.

Google musuhan sama Twitter?

KOMPAS.com – Mesin pencari Google mulai saat ini tidak memberi indeks hasil pencarian dengan simbol atau karakter @ (at) yang selama ini identik dengan jejaring sosial Twitter. Coba saja Anda masukan kata kunci ‘@’ dilanjutkan nama akun Twitter Anda pada mesin pencari Google. Maka, hasil pencarian Google tidak mengenali simbol ‘@’ tersebut dan tweet-tweet akun Twitter yang dimaksud tidak muncul di hasil pencarian. Contohnya, jika Anda mencari akun Twitter resmi Kompas.com, yakni ‘@kompasdotcom’, maka hasil pencarian yang keluar adalah kompasdotcom, tanpa simbol ‘@’ di depannya. Selain, di hasil pencarian tersebut tidak akan ditemui tweet atau kicauan yang pernah diposting oleh akun @kompasdotcom. Sebelumnya, antara Google dan Twitter terikat kontrak yang menerangkan bahwa hasil kicauan pengguna Twitter dimasukkan dalam hasil pencarian real time mesin pencari Google. Ini dilakukan Twitter mengingat setiap harinya ada 200 juta kicauan yang dilontarkan melalui Twitter. Namun, pada Juli 2011 lalu, kontrak kedua perusahaan telah berakhir. Twitter pun tidak memperpanjang kontrak tersebut. Pihak Twitter mengungkapkan kekecewaan atas apa yang dilakukan Google. Langkah ini bisa jadi merupakan strategi Google untuk menghentikan dominasi Twitter di ranah jejaring sosial. Karena, Google hendak menaikkan popularitas jejaring sosial milik mereka, Google+. Selama ini, Google menjadi andalan pengguna internet untuk hasil pencarian yang relevan. Namun, ternyata Google lebih memutuskan untuk tidak memasukan indeks kicauan Twitter dan membuat strategi agar Google+ berada di garis depan hasil pencarian. Hal ini akan sedikit mengurangi kepuasan personal pengguna Google yang hendak mencari kicauan mereka di Twitter.